Hoola.. bloogger miss u so much.. semenjak lepas dari bangku perkuliahan dan menjajajaki dunia pekerjaan semenjak tahun ini, blog ini udah makin ga keurus aja yah. kalo ibarat kamar mah udah penuh debu, sumpek dan penuh sama sarang laba-laba disana-sini. Kali ini aku mau sharing dikit nih tentang relationship. What??? hahahha:D
Kalau mau bicara tentang ini sebenarnya saya bukan pakarnya soalnya saya ga punya koneksi yang terlalu banyak. Tapi hanya untuk sekedar sharing aja koq, atau mungkin kalian bisa belajar dari pengalaman saya.
Salah satu penyebab yang bikin saya agak sulit dalam hal ini adalah karena saya itu orang introvert, cenderung penyediri dan ada yang bilang 'unsos'. Eits tapi jangan salah kata seorang yang punya background ilmu psikologi bilang ke saya gini, "kamu emang agak sulit jalin relasi tapi sekalinya udah jalin hubungan, hubungan kamu berkualitas koq'. Setelah saya pikir2 emang bener koq. Saya tuh punya temen deket dikit banget, kalau sekedar kenalan sih banyak.
Kenapa yahh bisa begitu, setelah saya analisis yah karena saya tuh orangnya ga gampang ngasih kepercayaan ke orang gitu deh. Tapi yah kepercayaan itu yang paling penting buat jalin relasi. Gini deh contoh simplenya, saya punya temen yang udah lumayan deket gitu deh, suatu saat dia minjem uang saya dan ternyata dia ga balikin, kan janjinya minjem tuh. harusnya dibalikin kan eh tapi dia anggap enteng gtu aja. hmm sebel deh. Kalo udah percaya padahal enak deh mau sharing apa aja udah ga sungkan lagi. Sama-sama ngeriiin dan ga salah paham lagi.
Satu lagi yang penting dalam bangun relation ialah komunikasi. Yup harus ada komunikasi dari dua pihak. Kalo yang satu cerita terus tapi yang satunya lagi diem2 aja yah buat apa toh. Komunikasi yang lancar bisa bikin kita terupgrade juga loh karena bisa saling kasih input atau sekedar sharing knowledge gitu.. hmmm senengnya. Kalo udah komunikasi jarang kadang kepercayaan bisa turun loh soalnya bisa salah paham gitu deh. begitu juga sebaliknya kalo udah ga percaya gimana mau ngomong sama dia. Intinya keduanya harus balance sih. Segini dulu yah talking2 nya di sesi ini. See you pals!!!
Tampilkan postingan dengan label Social issue. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Social issue. Tampilkan semua postingan
Selasa, 26 Agustus 2014
Senin, 29 November 2010
Paris Van Java
Tanah Pahrayangan memang jauh berbeda dari kota ku di besarkan. Walau jarak yang memisahkan hanya 125km dari Ibu Kota dan hanya ditempuh dengan 2jam berkendara di tol cipularang, namun sepertinya kota ini memiliki efek yang besar buat saya selama, beberap tahun ini atau tepatnya 2.5 tahun lagi.
Tiba di Bandung perubahan atmosfer langsung terjadi, ya udara yang agak menusuk tubuh karena dinginnya suhu ataupun dialek-dialek masyarakat disini yang sangat menjunjung tinggi bahasa daerahnya. Ya, bahasa sunda, yang sebenarnya sudah saya pelajari selama 9tahun dari SD sampe SMP namun sepertinya sekarang saya sedang mengalami Praktikum dari 9tahun saya belajar teori yang sangant membosankan. Beberapa contoh saya praktikan misalnya "Punten teh, Mangga kang, Nuhun neng" itu kata sapaan yang lazim disana. Pertamanya aneh untuk berbicara seperti itu namun sekarang sudah lumayan terlatihlah mulut saya dibanding 1 tahun yang lalu. Belum lagi kalau diangkutan umum ya penuh dengan kata-kata asing, misalnya "ka lebet", "ka harep", "payeun" dsb. Satu kata yang paling unik menurut saya adalah, "SETOPAN" agak lama otak saya menafsirkan kata ini dan ternyata kata setopan itu berarti perempatan lampu merah di jalan raya. Oh My GOD knapa gitu ya... mereka milih kata itu kaya gx ada kata yang lain yang lebih bagus. "Ke air" apakah maksud dari kata itu? yang orang Bandung pasti udah tau ya..benar ke air itu ucapan yang disebut masyarakat disini kalau mau ke toilet ke kamar mandi dsb. Aneh kan!@#& Kalau menurut saya aneh gilaa, pokonya masih banyaklah kosakata unik disini. Ohiya orang2 Bandung emang gx perlu diragukan lagi deh soal kreativitas mereka, gak cuman untuk membuat kosakata aneh tapi juga produk2 mulai dari kuliner, fashion, penak-pernik ya ketimbang Jabodetabek, Bandung mah udah rajanya-lah. Klo di jalan raya juga masyarakat disini lumayan tertib berlalu-lintasn ya gak seperti Jakarta,Bekasi yang Huuft udah gak karuanlah macetnya di jam-jam sibuk, slip kanan salip kiri, ngetem seenaknya, tingkat kriminalitas disini masih cenderung rendah jadi gx perlu kuatir bangetlah soal keamanan dan kenyamanan di kota ini. Mau jalan-jaln di Bandung ongkosnya ga terlau mahal pula dan sekalipun bayar gak sesuai tarif supir angkotnya pasrah banget. Kalo d Jakarta ato Bekasi lo berani kayak gitu beuh harus berani juga di caci maki dengan semprotan sumpah serapah yang menyebutkan mulai dari hewan, kotoran dll.
Banyak deh hal-hal unik yang saya temui selam disini pokonya kalo di ceritaiin panjang lah. Walau ketemu hal-hal unik itu seru tapi saya juga kangen sama hal-hal lain misalnya, kadang ya gw yang udah terbiasa dengan kota yang panas suka bete kalo ujan terus, belon lagi kalo di angkot abangnya perasaan gw lemot gitu kurang memacu adrenailn jadi pas dulu w k kmpus naik angkot suka Geregetan jadinya Geregetan. Maslah teman ya itulah yang sebenaranya paling saya rindu dengan Bekasi, Saya kehilangan anak-anak yang suka menabung, yang suka membolang, yang suka baca buku2 unik, yang punya ide gila dalam menyelesaikan soal, dan saya kehilangan para pemimpi tangguh disini.
Entah belum ketemu atau bagaimana yang jelas tak saya jumpai disini..
Senin, 22 November 2010
"School vs Learning"
Artikel tentang judul ini sebenernya udah lama pingin saya buat, tapi sekarang saya sudah mengebu-gebu sehabis membaca buku "Sekolah saja tidak pernah cukup" by Andrias Harefa. It's a nice book, ternyata yang ada diotak saya sekarang bukan cuma sekedar pendapat, mahasiswa tingkat 2 saja, bahkan orang-orang besar yang hanya saya kenal lewat nama dan karyanya juga memiliki pemikiran yang serupa.
Sekolah, ya tiap kita yang beruntung pasti pernah duduk dibangku sekolah, mandengarkan materi dari guru, mengerjakan tugas mandiri atau kelompok, ujian, dan akhirnya mendapatkan nilai itulah sekolah. Berbeda dengan belajar yang dalam bahasa inggrisnya "learning", belajar tidak perlu duduk dibangku sekolah, belajar tidak butuh biaya besar, belajar tidak untuk mendapatkan nilai, tapi belajar butuh kerja keras, semangat dan kemauan untuk bisa. Merubah diri menjadi lebih baik dan menyelesaikan problematika kehidupan itulah tujuan belajar. Parameternya bukan nilai, raport, NEM, IPK atau ijasah, melainkan kepuasan dalam diri anda karena telah bertransformasi menjadi "better person".![]() |
| "mau dibawa kemana rumus ini?" |
Itu semua hanya beberapa dari pendapat saya, lantas bagaimana dengan yang ada dilapangan?? ouh ternyata sangat tidak sesuai dengan harapan saya, dan terkadang saya juga 'terpaksa' melakukan konsep belajar disekolah karena itu tuntutan pasar. Disekolah sering dosen atau guru menjelaskan suatu materi yang terkadang beliau pun bingung dalam pengaplikasiannya. Saya ambil contoh ketika pelajaran matematika kelas 2sma saya mendapatkan materi tentang trigonometri, materi itu cukup sulit bagi saya dan sebagian teman-teman saya. Saat itu kami disuruh menghapal sekitar 20 rumus yang cukup panjang lalu merubah-rubah bentuk persamaan trigonometri tersebut dengan memadukan perbagai rumus, entah apa dan mau dibawa kemana trigonometri tersebut?! (hwakwkak kayak lagu ya). Saking sulitnya seorang teman saya bertanya kepada guru matematika tersebut "Bu buat apa sih kita beajar trigonometri ribet2 gini?" tanyanya dengan penuh rasa ingin tahu. Lalu guru tersebut berkata "Buat ngencer-ngencerin otak" jawab beliau dengan wajah yang agak bingung. Begitu juga di kelas manajemen keuamgan seorang dosen menjelaskan tentang definisi, sifat-sifat dan segala hal tentang sahm dan obligasi, anak-anak sekelas bisa dibuat paham oleh pengajarannya. Namun ketika seorang anak bertanya "Bu kalau anda disuruh memilih apa akan memilih obligasi atau saham?". Beliau cukup bingung dan agak kaget dengan pertanyaan itu lalu menjawabnya "Saya tidak tahu", dan malah beralih ke topik lain yang secara tidak langsung ingin menjawab pertanyaan itu namun beliau tidak tegas dalam menentukan pendapatnya. Itu hanya sebagian kecil dari kelemahan sekolah konvensional.Ya memang dapat dipahami bahwa sebenarnya guru dan dosen hanya manusia biasa yang sama seperti kita banyak kekurangannya. Belum lagi dengan tindakan-tindakan seperti nyontek, meniru, memplagiat karya orang lain yang dihalalkan dalam dunia persekolahan. Dan saya juga pernah melakukannya karena tuntutan pasar yang begitu mendesak. Ingin keluar dari semua itu karena saya bosan dan setelah melakukannya terkadang hati terasa berat dan tidak mencapai maximum utility kalau dalam mikro ekonomi.
Begitulah dunia saat ini belajar disekolah sangat menjenuhkan. Ya, saya butuh refreshing dalam dunia belajar dan tidak hanya butuh sekolah biasa. Learning organization yang begitu dinamis mungkin itu yang saya butuh untuk belajar, tapi sulit menemukannya di tempat ini, background psikografis kami mungkin itu alasannya yang saya akan kemukakan di posting berikutnya. Thanks blogger to give me an opportunity to speak up..!
Muach..GBu:)
Langganan:
Postingan (Atom)
